SuryaMasRental.Co.ID

Situs Teknologi Otomotif dan Mekanik Terupdate Paling Lengkap Di Dunia

KONTROL SUARA

KONTROL SUARA
KONTROL SUARA

KONTROL SUARA

KONTROL SUARA

Tingkat kebisingan pada kantor merupakan faktor lingkungan yang harus dipertimbangkan untuk mengelola tingkat produktifitas pegawai yang diinginkan. Apabila tingkat kebisingan melampaui batas yang tidak diinginkan, beberapa gangguan fisik dan psikologis terhadap mereka akan terjadi. Misalnya, tingkat kebisingan yang terus menerus berlangsung dapat mengakibatkan kehilangan pendengaran sementara atau permanen bagi pegawai, disamping mengakibatkan kelelahan fisik dan mentalk sehingga mengurangi produktivitas mereka, serta dapat pula menimbulkan keresahan, gangguan, dan ketegangan dengan meningkatkan tekanan darah serta metabolisme tubuh, dan dalam waktu lama dapat mengakibatkan masalah kesehatan yang serius.(shomer, 2000). Berikut adalah beberapa sumber kebisingan hasil dari penelitian Ayr, Cirilli, Fato, dan Martellotta (2003):

Sumber kebisingan
Orang Telepon Suara dari HVAC Peralatan
berbicara Berbunyi Luar kantor Systems* Kantor
Seluruh sampel 31% 8% 11% 34% 16%
Ruang baca 47% 9% 14% 26% 4%
Kantor tunggal 7% 18% 21% 27% 27%
Kantor tanpa AC 14% 33% 13% 40%
Kantor ber-AC 21% 10% 12% 41% 16%

*HVAC system : sistem pemanas dan AC

2.5.1 KONTROL SUARA PADA PERKANTORAN

Beberapa teknik dapat digunakan dalam mengontrol kebisingan pada ruang kantor antara lain:

  1. Kontruksi yang sesuai jumlah kebisingan pada perkantoran dapat dikontrol dengan menggunakan teknik kontruksi bangunan yang efektif. Terdapat dua suara yang akan merabat di udara, yaitu suara yang merambat melalui udara (disebut suara udara) atau melalui struktur bangunan. Berikut adalah teknik konstruksi yang direkomendasikan untuk mengurangi kebisingan yang tidak diinginkan.
  2. Memasang jaringan yang terhubung dengan jaringan utama dari sistem HVAC. Hal ini diharapkan akan mengurangi tingkat kebisingan yang dihasilkan oleh sistem tersebut.
  3. Penggunaan jendela dan pintu yang rapat dan memilki seal yang terbuat dari karet, sehingga suara lebih dapat diredam dan tidak mudah keluar dari ruangan.
  4. Membangunudara diam pada beberapa struktur bangunan, yaitudengan menempatkan ruang berongga sehingga suara dapat teredam ke dalamnya. Hal ini akan mengurangijumlah suara yang merambat dari suatu ruangan ke ruangan lain.
  5. Penggunaan material kontruksi yang dapat mengurangi kemungkinan terjadinya getaran suara, sepeeti penggunaan kayu atau alumunium pada jendela yang lebih empuk dibandingkan baja dan sebagainya.
  6. Penggunaa material peredam suara. Peredaman suara diukur dengan menggunakan NRC, yang kebanyakan materialnya mempunyai ukuran .50 sampai.95. nilai .50 berarti 50 persen suara diredam oleh material tersebut. Untuk tujuan meredam suara, material dengan nilai di bawah .75 kurang efektif. Ada 3 kriteria yang dapat digunakan dalam memilih material yang mampu menghasilkan peredaman suara yang optimal, antara lain :
  7. Peredam yaitu tingkat suara yang dapat diredam oleh material. Tingkat peredaman diukur oleh NRC
  8. Pemantulan tingkat pemamtulan yang dimiliki material, yaitu suara yang diserap dan dipantulkan kembali ke udara.
  9. Isolasi tingkat material yang dapat menghalangi suara melewati material tersebut. Isolasi suara dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti kepadatan dan berat suara, serta ketebalan material yang akan diguanakan untuk meredam suara.

Keseimbangan yang sesuai antara pemantulan dan penyerapan suara dibutuhkan pada ruang kantor tertentu untuk membantu mengurangi keberadaan silent voice pada area kerja. Apabila tingkat kebisingan diprediksikan akan meningkat, peredaman harus ditingkatkan  dan pemantulan dikurangi. Material dengan struktur keras besi, gelas, maupun plastik akan memantulkan sebagian besar sura jika dibandingkan dengan penggunaan material yang berkharakteristik lebih lembut, misalnya kayu dan spon.

  1. Alat peredam suara. Beberapa alat peredam suara sering digunakan untuk mengontrol suara perkantoran. Alat peredam suara itu dapat diletakkan pada beberapa mesin di perkantoran. Contohnya mesin tik manual atau printer.
  2. Masking. Metode ini melibatkan pencampuran suara kantor dengan suara rendah yang tidak mengganggu. Juga dikenal dengan white noise, masking hamping sama suara yang terdengar ketika suara melewati lorong atau saluran.

2.5.2 kontrol suara pada kantor terbuka

Penggunaan open space memberikan tantangan baru pada kontrol kebisingan. Jumlah material peredam suara yang besar mungkin digunakan karena kebanyakan tembok permanen dihilangkan dalam penggunaan open space. 


Sumber: https://appbrain.co.id/