SuryaMasRental.Co.ID

Situs Teknologi Otomotif dan Mekanik Terupdate Paling Lengkap Di Dunia

munculanlah orang-orang yang mengikrarkan dirinya secara terang-terangan sebagai Nabi

munculanlah orang-orang yang mengikrarkan dirinya secara terang-terangan sebagai Nabi
munculanlah orang-orang yang mengikrarkan dirinya secara terang-terangan sebagai Nabi

Memberantas Nabi Palsu

Tidak berapa lama setelah Rasulullah wafat,

munculanlah orang-orang yang mengikrarkan dirinya secara terang-terangan sebagai Nabi. Beberapa diantara mereka telah mendeklarasikan diri sebagai nabi sejak Rasulullah masih hidup dan sebagiannya muncul setelah mendengar beliau telah waat. Sebagian nabi palsu tersebut adalah tokoh-tokoh dari beberapa suku yang belum bisa menerima Islam (non Muslim), akan tetapi berusaha meniru atau menyaingi keberhasilan kaum muslimin.
Pertama, Musailamah al- Kadzdzab. Ia memiliki pasukan sebesar 40.000 orang. Musailamah merupakan tokoh cendekiawan yang terpandang didalam lingkungan Bani Hanifah yang mendiami wilayah Yamamah. Abu Bakar mengirimkan pasukan dibawah Panglima Ikrimah bin Amru bin Hisyam, yang disusuli oleh pasukan cadangan dibawah pimpinan Panglima Syarhabil bin Hasanah.
Selanjutnya bala bantuan lain menyusul yang terdiri dari atas kaum Muhajirin dan Anshar yang dipimpin oleh Khalid bin Walid. Musailamah yang mengetahui hal tersebut kemudian menuju Wadial Aqraba, sebuah tempat perlintasan bagi musafir Basrah bersama seluruh pasukannya. Majat bin Mirarat, tokoh yang dihormati di kalangan Bani Hanifah membuat regu patroli dan menyelidiki gerak-gerik kaum muslimin atas dasar belas dendam terhadap sekutu mereka, Bani Amir. Regu tersebut berhasil disergap oleh pasukan Khalid dan selain Majat dihukum mati karena tidak mau berbaiat kepada Abu Bakar sebagai khalifah.
Pertempuran besar pecah keesokan harinya. Musailamah yang akhirnya terdesak melrikan diri ke Al-Hadikat, yaitu wilayah miliknya yang dilingkari tembok yang tinggi. Khalid kemudian mengepung tempat itu, Al-Barrak salah satu pasukannya meminta untuk dilemparkan ke dalam dan membuka gerbang. Pasukan muslim menyerbu, Khalid yang khawatir akan jatuhnya korban besar di kedua belah pihak berseru dan menantang Musailamah melakukan perang tanding.
Musailamah sendiri sebenarnya telah tewas ditangan Wahsyi yang segera menyerukan takbir. Pertempuran berakhir dengan jumlah korban dan harta rampasan yang besar. Dengan kekalahannya, suku Hanifah segera berbalik dan mengangkat baiat terhadap Abu Bakar.
Kedua, Sajjah Tamimiyah. Sajjah adalah seorang wanita yang berasal dari suku besar Tamim. Dia mengaku sebagai nabi setelah mendengar Rasulullah meninggal dunia. Sajjah merupakan salah satu pemuka suku Tighlab, kemudian ia melakukan sekutu dengan Malik bin Nuwaira yang kemudian menghimpun pasukan yang cukup besar.
Kemudian ia menggabungkan diri dengan Musailamah, beberapa kitab mengatakan bahwa Musailamah dan Sajjah melakukan pernikahan. Kemudian dibuat persyaratan dimana hasil wilayah Yamamah dibagi menjadi dua tiap tahunnya, sebagai imbalannya kedua pasukan harus bergabung untuk menghadapi pasukan dari Madinah.
Ketiga, Al-Aswad al-Ansi. Nama aslinya adalahAbhalah bin Ka’ab bin Ghautsal-Ansi, dari negeri yang dikenal dengan nama Kahf Khubban. Ia mengaku dirinya seorang nabi ketira Rasulullah hendak wafat dan seluruh suku Mazhaj mempercayainya. Aswad menyerang Najran dan berhasil mendudukinya beserta wilayah sekitarnya.
Aswad sendiri akhirnya dibunuh panglimanya, Kais Ibnu Abdi Yaguts. Kemudian ia menekan dan menindas beberapa kaum di daerah Yaman. Emir Firuz, salah satu pejabat San’a yang dikuasi oleh Kais meminta pertolongan di Madinah karena hendak dibunuh. Pasukan Ikrimah yang datang dari wilayah Mahra dan pasukan Ibnu Ummayah dari Madinah mengepung San’a dan menyerbu masuk ke dalam kota.
Kais sendiri kemudian ditangkap dan dikirim ke Madinah untuk dihadapkan dengan Abu Bakar. Wilayah tersebut kemudian kembali berbaiat kepada Abu Bakar.
Keempat, Thualihah al-Asadi. Dalam satu sejarah disebutkan bahwa dia adalah seorang ahli fikir dari suku besar Asad dan kekuatannya diakui dan diterima oleh suku besar Thai Ghathfan. Pasukan Khalid bin Walid berangkat ke tempat suku Thai Ghathfan, Murra dan Fezara yang menggabungkan diri dengan Thualihah, kemudian terjadilah pertarungan yang sengit.
Pasukan Thualihah dihancurkan dan Thualihah sendiri melarikan diri ke Syria. Ia kemudian memeluk Islam kembali dan sempat umrah ke Mekkah ketika Abu Bakar masih menjabat. Abu Bakar hanya membiarkannya dan berkata, “Ia sekarang seorang muslim, apa yang harus dilakukan?”


Sumber: https://ngegas.com/