SuryaMasRental.Co.ID

Situs Teknologi Otomotif dan Mekanik Terupdate Paling Lengkap Di Dunia

Para milenial yang menghapus Tinder dan merasa bahagia

Para milenial yang menghapus Tinder dan merasa bahagia
Para milenial yang menghapus Tinder dan merasa bahagia

Para milenial yang menghapus Tinder dan merasa bahagia

Para milenial yang menghapus Tinder dan merasa bahagia

Sudah hampir setengah dekade, aplikasi jodoh menjadi bagian dari arus utama. Apakah milenial yang jenuh mencari cinta di platform digital masih bisa menemukannya di dunia analog?

Aplikasi kencan telah berhasil menolong terjadinya jutaan kencan dan membantu pasangan naik

pelaminan. Di Amerika, aplikasi kencan dan situs cari jodoh bahkan jadi tempat paling umum untuk bertemu jodoh yang prospektif. Kepopulerannya juga telah menyebar ke seluruh dunia.

Namun bagi mereka yang sudah pernah mencoba mencari cinta dengan gawai, lalu gagal, kesaktian situs dan aplikasi kencan mulai memudar.

‘Harmonica’: Aplikasi kencan Mesir yang melibatkan ayah, ibu, hingga tante
Bisakah algoritme memprediksi siapa jodoh Anda?
Demi sukses kencan di Tinder, pria 69 tahun minta pengadilan ubah usianya 20 tahun lebih muda

“Saya bertemu banyak orang hebat dan kemudian menjadi teman, atau saling naksir selama beberapa waktu, tapi tidak satupun berubah menjadi hubungan jangka panjang,” kata Madeleine Dore, seorang penulis berusia 30 tahun dari Melbourne yang pernah tinggal, dan berkencan, di New York dan Copenhagen.

Dia memakai aplikasi Tinder, Bumble dan OkCupid selama lima tahun belakangan, dan menjelaskan kencan-kencan yang dilakoninya sebagai pengalaman sangat berwarna, mulai dari “yang terasa seperti adegan di film romantis” hingga “bencana”.

Banyak temannya bertemu pasangan mereka secara daring, sebuah kenyataan yang membuatnya

tak menyerah menggunakan aplikasi kencan. Tapi, ketika “percakapan mulai tidak nyambung, rasa suka tiba-tiba hilang saat bertemu langsung, dan janjian kencan dibatalkan sepihak”, Dore mulai dihinggapi perasaan kecewa dan memutuskan menghapus aplikasi di gawainya selama beberapa bulan.

Pola ini mungkin kerap dialami oleh para lajang di luar sana. Beberapa berkeluh kesah bila

membahas pengalaman kencan mereka dengan aplikasi, mulai dari kecocokan profil yang terlalu sedikit atau terlalu banyak, profil yang menyesatkan, kekhawatiran soal keamanan, komentar-komentar rasis, dan konten dewasa yang bertebaran. Belum lagi masalah-masalah sosial yang hanya terjadi di dunia digital dan hanya bisa dijabarkan dengan istilah baru, seperti ghosting, catfishing, pigging, dan orbiting.

 

sumber :

https://merpati.co.id/seva-mobil-bekas/