SuryaMasRental.Co.ID

Situs Teknologi Otomotif dan Mekanik Terupdate Paling Lengkap Di Dunia

Penelitian Kualitataif dan Teknik Analisis Data Miles and Huberman

Penelitian Kualitataif dan Teknik Analisis Data Miles and Huberman
Penelitian Kualitataif dan Teknik Analisis Data Miles and Huberman

Penelitian Kualitataif dan Teknik Analisis Data Miles and Huberman

 

Penelitian Kualitataif dan Teknik Analisis Data Miles and Huberman

Bahwa kecenderungan dewasa ini penelitian kualitatif semakin mendapat tempat di hati para peneliti karena beberapa alasan yang antara lain bahwa ilmu-ilmu fisik memang dapat ditentukan di laboratorium karena memiliki uniformitas fisis yang tetap, sebaliknya perilaku sosial merupakan gejala unik yang uniformitasnya tidak dapat ditentukan sebelumnya; selain itu tingkah laku sosial terdapat bukan hanya seperangkat penilaian yang seragam tetapi setumpuk kecenderungan, kepentingan dan cita-cita yang kacau dan saling bersaingan; akhirnya dunia ini merupakan sesuatu yang komplek dan ganda. Pendekatan kuantitatif terasa ada ketidak sesuaian paradigma untuk menangani masalah-masalah empiris sosial seperti ini. Muncullah paradigma baru yakni pendekatan kualitatif.

Pendekatan kualitatif dilandasi oleh filsafat fenomenologis yang implementasinya mengenal berbagai istilah seperti naturalistik, etnometodologi, dan interaksi simbolik. Dalam mendisain penelitian kualitatif yang perlu diingat bahwa selain jenis kasusnya harus jelas, studinya apakah kasus tunggal ataukah multi kasus atau multi situs, demikian pula landasan teori yang digunakan sebagai pendekatan apakah fenomenologis, interaksi simbolik, kebudayaan, dan etnometodologi sebagai arah bagi pengumpulan dan analisis datanya.

Jenis dan Ciri Metode Penelitian Kualitatif

Beberapa karekterisitik penelitian kualitatif, antara lain dapat disebutkan :

a) Pengungkapan makna (meaning) merupakan hal yang esensial;
b) Latar alami (natural setting) sebagai sumber data langsung;
c) Peneliti sendiri merupakan instrumen kunci.
d) Data kualitatif untuk mengungkap realitas ganda antara peneliti dan informan.
e) Sampel bertujuan (purposive sampling) sehingga mengutamakan data langsung.
f) Analisis data induktif, lebih memudahkan pendeskripsian konteks yang muncul.
g) Teori mendasar (grounded theory), yaitu mengarahkan penyusunan teori yang mendasar dan dari lapangan langsung.
h) Disain bersifat sementara karena pola lapangan sulit dibakukan terlebih dahulu, disain tampil dalam proses penelitian (emergent, evolving, developing).
i) Pensepakatan hasil terhadap makna dan tafsir atas data langsung dari sumbernya.
j) Modus laporan studi kasus agar terhindar dari bias akibat interaksi peneliti dengan responden.
k) Penafsiran idiografik atau keberlakuan khusus yang diarahkan dalam penafsiran data kualitatif, bukan nomotetik (keberlakuan umum).
l) Aplikasi tentatif akibat realitas ganda dan berbeda-beda.
m) Ikatan konteks terfokus, karena tuntutan pendekatan holistik.
n) Kreteria keabsahan, meliputi kredibilitas, transferbilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas.

Dalam penelitian kualitatif, peneliti sewajarnya harus masuk kelatar tertentu yang sedang diteliti karena concern nya dengan konteks. Bagi peneliti kualitatif fenomena dapat dimenegrti maknanya secara baik apabila dilakukan interaksi dengan subyek melalui wawancara mendalam dan diobservasi pada latar dimana fenomena tersebut sedang berlangsung. Oleh karena itu teknik wawancara dan observsi dalam penelitian kualitatif merupakan teknik yang digunakan. Disamping itu peranan teknik dokumentasi sangat penting, karena bahan-bahan yang di tulis oleh atau tentang subyek seringkali digunakan untuk melengkapi data yang diperlukan.

Data yang sedang dan telah dikumpulkan melalui teknik-teknik diatas harus dilacak, diorganisasi, dipilah, disintesis, dicari polanya, diinterpretasi dan disajikan agar peneliti dapat menangkap makna fenomena serta dapat mengkomunikasikan kepada orang lain. Proses ini dalam penelitian kualitatif merupakan rangkaian analisis data.

Dalam uraian selanjutnya akan disajikan tentang teknik pengumpulan data yang meliputi wawancara, observasi, dan dokumentasi serta teknik dan model analisis data.

Teknik Pengumpulan Data

Teknik Wawancara

Menurut Lincoln dan Guba (1985) dalam A. Sonhadji K.H (1994) wawancara dinyatakan sebagai suatu percakapan dengan bertujuan untuk memperoleh kontruksi yang terjadi sekarang tentang orang, kejadian, aktivitas, organisasi, perasaan, motivasi, pengakuan, kerisauan dan sebagainya ; selanjutnya rekonstruksi keadaan tersebut dapat diharapkan terjadi pada masa yang akan datang ; dan merupakan verifikasi, pengecekan dan pengembangan informasi ( konstruksi, rekonstruksi dan proyeksi) yang telah didapat sebelumnya.

Tahap-tahap wawancara

· Menentukan siapa yang diwawancarai
· Mempersiapkan wawancara
· Gerakan awal
· Melakukan wawancara dan memelihara agar wawancara produktif
· Menghentikan wawancara dan memperoleh rangkuman hasil wawancara

Pada tahap pertama peneliti menentukan dimana dan dari siapa data akan dikumpulkan . Kegiatan ini juga meliputi penentuan bahan-bahan dan identifikasi informan yang diperlukan dalam wawancara. Pada tahap kedua mencakup pengenalan karakteristik dari responden. Semakin elite responden, maka makin penting untuk mengetahui informasi lebih banyak tentang responden. Selain itu peneliti harus menyiapkan urutan pertanyaan, peran, pakaian, tingkat formalitas, dan konfirmasi waktu dan tempat. Tahap ketiga adalah gerakan awal, dimana penelti melakukan semacam “Warming Up” yaitu mengajukan pertanyaan yang bersifat “grand tour” agar responden dapat memperoleh kesempatan dan mengalami dalam suasana yang santai tetapi mampu memberikan informasi yang berharga., juga berkemampuan untuk mengorganisasikan jalan pikirannya sendiri., dengan mengajukan pertanyaan secara umum yang akan dirinci pada waktu wawancara selanjutnya.

Pada tahap keempat pertanyaan diajukan secara khusus (spesifik), agar dipelihara produktifitas proses wawancara. Tindakan menhentikan wawancara, apabila peneliti telah banyak mendapatkan informasi yang melimpah; serta baik peneliti maupun responden sudah capai. Tindakan berikutnya peneliti harus merangkum dan mencek kembali yang telah dikatakan oleh responden dan barang kali responden ingin menambah informasi yang telah diberikannya.

Menurut Seidnan (1991)

· Wawancara yang mengungkap konteks pengalaman partisipan (responden)
· Wawancara yang memberi kesempatan partisipan untuk merekonstruksi pengalamannya.
· Wawancara yang mendorong partisipan untuk merefleksi makna dari pengalaman yang dimiliki.

Pada wawancara pertama, pewawancara mempunyai tugas membawa pengalaman partisipan kedalam konteks dengan meminta partisipan bercerita sebanyak mungkin tentang dirinya sesuai dengan topik pembicaraan , dalam kurun waktu sampai sekarang. Kegiatan ini disebut wawancara sejarah hidup terfokus (focused life history). Adapun tujuan wawancara kedua adalah untuk mengkonsentrasikan rincian konkret tentang rincian pengalaman partisipan sekarang, sejalan dengan topik studi. Misalnya dalam penelitian tentang guru dan mentor dalam suatu situs klinis, kita bertanya pada mereka tentang apa yang sebenarnya dilakukan dalam pekerjaannya. Wawancara ketiga adalah refleksi makna. Dalam hal ini partisipan diminta merefleksi makna pengalaman yang dimilikinya. Pertanyaan “makna” bukan merupakan pertanyaan yang memuaskan, sekalipun isi ini memegang peran yang penting untuk mengungkap pikiran partisipan. Pertanyaan – pertanyaan seperti ini mungkin muncul, menurut anda memberi kesan apa kehidupan anda sebelum menjadi guru, dan kehidupan anda sekarang seperti yang anda katakan ?. Kemudian dapat diteruskan “pengalaman-pengalaman” anda tersebut apa bermanfaat untuk menghadapi kehidupan yang akan datang.

Apabila suatu penelitian melibatkan wawancara yang ekstensif, atau wawancara merupakan teknik utama, direkomendasikan untuk menggunakan tape recorder. Tulisan lengkap dari rekaman ini dinamakan transkrif wawancara. Transkrif wawancara merupakan data pokok dari penelitian wawancara.

 

Sumber : https://pengajar.co.id/