SuryaMasRental.Co.ID

Situs Teknologi Otomotif dan Mekanik Terupdate Paling Lengkap Di Dunia

Perkembangan Spiritual Manusia dalam Persfektif Al Ghazali

Perkembangan Spiritual Manusia dalam Persfektif Al Ghazali
Perkembangan Spiritual Manusia dalam Persfektif Al Ghazali

Perkembangan Spiritual Manusia dalam Persfektif Al GhazaliPerkembangan Spiritual Manusia dalam Persfektif Al Ghazali

Biografi Singkat  Al Ghazali

Al Ghazali mempunyai nama asli Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Ahmad, dilahirkan di kota Thus, Khurasan, wilayah Persia pada tahun   450   H/1085 M.

Mengenai   sebutan   Al  Ghazali,   berasal   dari    dua                                                                                                                            kemungkinan, yaitu berasal dari nama desa tempat lahirnya Gazalah, oleh sebab itu sebutannya ialah Al Ghazali (dengan satu “z”). kemungkinan yang kedua berasal dari pekerjaan sehari-hari yang dihadapinya dan dikerjakan oleh ayahnya yaitu seorang penenun dan penjual kain tenun dinamakan Gazzal, oleh sebab itu panggilannya Al Ghazali (dengan dua “z”) . Ayah Al Ghazali, adalah seorang ahli tasawuf yang saleh. Sebelum ayahnya meninggal, ia dan saudaranya ketika masih kecil diserahkan kepada seorang ahli tasawuf yang kelak akan mendidiknya.  Karena perbekalan untuk mendidik Al Ghazali dan saudaranya yang dibawa oleh ahli sufi tersebut habis, maka mereka dititipkan di asrama pendidikan di kota Thus. Ia berguru kepada Razakani Ahmad bin Muhammad tentang ilmu fiqh dan kepada Yusuf en Nassa4j tentang ilmu tasawuf

 Kemudian di Durjan, ia berguru kepada Nashar el Ismaili, setelah itu ke Nisyarpur menjadi murid imamul Haramayn al Juwayni, guru besar madrasah Nizamiyyah Nisyapur. Disinilah. Ia mempelajari berbagai ilmu pengetahuan : ilmu logika, ilmu kalam, filsafat, ilmu alam dan lain-lain. Kemudian ia pindah ke Bahgdad, kota pusat kebudayaan Islam pada masa itu. Di sini ia mulai mengajarkan ilmunya dan mulai termasyhur. Dengan kebesaran jiwa yang tumbuh dalam pribadinya, ia mendapat perhatian dari Perdana Menteri Nizam al Mulk yang pada masa itu memerintah dibawah dinasti Sultan-sultan Saljuk. Atas kebijaksanaan perdana menteri itu, pada tahun 484 H, ia menjadi Guru Besar di Universitas Nizamiyyah Baghdad selama lima tahun

Pendidikan dan kedudukan serta situasi pada masa itu, dimana muncul berbagai macam aliran agama dan filsafat, masing-masing saling bertentangan dan merasuki dalam bidang keislaman  tampaknya begitu dominan mempengaruhi pemikiran-pemikirannya. Tetapi pengaruh tersebut tidak lama menyelip pada dirinya, karena kemudian timbul pergolakan-pergolakan di dalam bathinnya, antara ilmu dan amal.

Pergolakan  tersebut  membuatnya  sakit,  dokter tidak bisa menyembuhkan,  karena  penyakitnya  berasal  dari   dalam.   Oleh karena  itu, ia mengobatinya dengan kekuatan jiwa sendiri dengan minta pertolongan kepada Allah. Akhirnya pada tahun 489 H, setelah sembuh dari sakitnya, Al Ghazali menemukan jalan hidup baru, yang diyakininya sebagai ilham dan petunjuk Allah. Ia meninggalkan kemewahan, harta kekayaan, kehormatan dan keluarga yang ada di Baghdad untuk kemudian pergi ke Suria. Di Damaskus, ia berkhalwat selama dua tahun 490 H. kemudian menuju Palestina, tepatnya Hebron dan Yerussalem. Pada tahun 492 H, ia menuju Mesir (mengembara) yang saat itu di Kairo telah     di kenal dengan Universitas Al Azhar (berdiri 362 H / 972 M). Setelah itu Al Ghazali menuju Mekkah dan Madinah (ziarah ke makam Rasulullah dan menunaikkan ibadah haji). Setelah sekian lama di dalam pengembaraan akhirnya ia pulang kembali ke Baghdad. Ia diminta oleh Perdana Menteri Nizam al Mulk untuk menjadi Guru Besar pada Universitas Nizamiyyah yaitu pada tahun 500 H/1106 M. Menurut Margareth Smith M.A. Ph.D., permintaan tersebut ditolak  Al Ghazali. Menurut Jamil Ahmad, seorang penulis buku Hundred Great Muslims walaupun istana Saljuk terus menerus mengundang dia untuk membimbing peningkatan ilmu dikawasan mereka (Universitas Nizamiyyah), Al Ghazali sama sekali tidak mau berhubungan dengan penguasa itu, dan melanjutkan kegiatan mengajar di kota kelahirannya (Tus) sampai wafat. Sesudah mengarungi lautan hidup yang luas itu, menyelami ilmu yang sangat dalam serta menegakkan ibadah, maka pada tahun 1111 M/505 H. Al Ghazali meninggal dunia.

   Teori Pemikiran Al-Ghazali

Di dalam dunia kehidupan terkhusus dalam pendidikan, konsep manusia sangat penting artinya di dalam suatu sistem pemikiran dan di dalam kerangka berpikir dari seorang pemikir. Sebab ia termasuk bagian dari pandangan hidup. Karena itu, meskipun manusia tetap diakui sebagai misteri yang tidak pernah dapat dimengerti secara tuntas, keinginan untuk mengetahui hakikatnya ternyata tidak pernah berhenti. Menurut R.G. Collingwood konsep manusia penting bukan demi pengetahuan akan manusia itu saja, tetapi yang lebih penting adalah karena ia merupakan syarat bagi pembenaran kritis dan landasan yang aman bagi pengetahuan-pengetahuan manusia.[32] Di dalam sejarah pemikiran islam, pandangan yang mendasar tentang manusia ditemukan pada filsafat dan tasawuf. Namun, menurut Muhammad Yasir Nasution pengaruh Fuqaha dan Mutakallimin yang kuat di dunia Islam menyebabkan pandangan mereka yang negatif terhadap filsafat berkembang, sehingga orang takut berfilsafat. Sehingga serangan yang lebih keras dan sistematis terhadap filsafat adalah yang dilakukan oleh Abu Hamid Al-Ghazali (1058-1111 M).[33]

  Berdasarkan hal ini, maka dalam tulisan ini akan dijelaskan tentang Manusia dalam Perspektif Al-Ghazali yang meliputi, diantaranya : (1) Hakikat Manusia, (2) Hikayat Insan, dan (3) Sifat Manusia, Pengembangan dan Pengetahuannya. Semoga dengan kajian ini kita dapat mengetahui pola pemikiran dari Al-Ghazali tentang manusia yang dapat membangkitkan kembali pemikiran intelektual dari kaum muslim.

Sumber: https://dosenpendidikan.id/