SuryaMasRental.Co.ID

Situs Teknologi Otomotif dan Mekanik Terupdate Paling Lengkap Di Dunia

Sejarah Timur Tengah (Sejarah Asia Barat)

Sejarah Timur Tengah (Sejarah Asia Barat)
Sejarah Timur Tengah (Sejarah Asia Barat)

Sejarah Timur Tengah (Sejarah Asia Barat)

Sejarah Timur Tengah (Sejarah Asia Barat)

Sejarah Timur Tengah (Sejarah Asia Barat)

Istilah Timur Tengah

sampai sekarang masih menimbulkan perdebatan para ahli. Ada beberapa istilah untuk menyebut kawasan Timur Tengah, diantaranya Levant, Timur Dekat, & Asia Barat Daya. Istilah Timur Tengah tampaknya lebih baru & selanjutnya diterima secara luas sampai saat ini karena digunakan sebagai istilah resmi oleh orang-orang Inggris. Secara geografis, definisi Timur Tengah tidak begitu jelas. Timur Tengah juga mengarah pada wilayah budaya, sehingga tidak memiliki batas tertentu, sehingga juga menimbulkan perdebatan pendapat tentang negara-negara mana saja yang termasuk kawasan Timur Tengah. Dalam pemahaman yang diikuti kebiasaan Modern, umumnya digunakan pengertian bahwa Timur Tengah meliputi semua negara yang terletak di sebelah selatan Uni Soviet & di sebelah barat Pakistan, juga Mesir di Afrika. Terlepas dari istilahnya yang masih menjadi perdebatan para ahli sejarah, Timur Tengah pada masa sekarang menempati kedudukan strategis dalam percaturan politik Internasional.

Timur Tengah terletak

pada pertemuan Benua Eropa, Asia & Afrika sehingga kawasan Timur Tengah mengusai jalan masuk ketiga benua itu. Timur Tengah juga berbatasan dengan Laut Tengah, Laut Merah, Laut Hitam, Laut Kaspia, Teluk Parsi & Samudera Hindia. Di kawasan Timur Tengah juga terdapat jalan-jalan air yang strategis, yakni Selat Bosporus, Selat Dardanela, Terusan Suez, Selat Bab el Mandeb & Selat Hormuz. Jika ditinjau dari segi geografisnya, baik melalui darat maupun perairan, kawasan Timur Tengah memandang ke banyak penjuru sehingga sejak fajar sejarah keunikan geografisnya ini telah diakui oleh negara-negara besar yakni barangsiapa yang dapat menguasai kawasan Timur Tengah maka negara itu akan mempunyai kedudukan strategis di dunia.
Selain letaknya yang strategis, Timur Tengah juga terkenal dengan kekayaan minyaknya. Minyak selain penunjang utama perekonomian negara-negara Timur Tengah ternyata juga menimbulkan masalah, di antaranya kesenjangan sosial & konflik, baik bersifat intern maupun ekstern yang melibatkan pihak asing dengan berbagai kepentingannya. Minyak memiliki arti ekonomi & politik yang sangat signifikan bagi penciptaan kapabilitas ekonomi & politik yang diperlukan untuk memperoleh kedudukan strategis dalam percaturan politik internasional. Para aktor akan terlibat dalam persaingan ekonomi & perebutan akses ke persedian sumber energi.

Arti penting kawasan Timur Tengah

juga ditunjang secara historis telah menjadi the Cradle of civilization atau asal muasal peradaban. Peradaban kuno di Timur Tengah meliputi peradaban di Mesopotamia, antara lain peradaban bangsa Sumeria, Babilonia & Asryria yang terletak di antara 2 sungai besar, yakni Euftat & Tigris. Selain Mesopotamia, peradaban kuno yang mengagumkan di Timur Tengah juga bisa dijumpai pada peradaban bangsa Mesir, Syria, & Persia.

Sifat suatu bangsa serta budayanya

terutama ditentukan oleh keadaan bumi di mana bangsa itu bertempat tinggal. Keadaan tanah, cara khas bertani & hasil pertaniannya, seluk beluk iklim & permusimannya, luas areal pertanian, semuanya itu menentukan pembangunan bidang ekonomi & politik suatu bangsa. Keadaan alam juga menentukan irama hidup, gaya hidup, serta sebagian besar tabiat manusianya. Demikian juga lahirnya sebuah peradaban, yakni pada umumnya sebuah peradaban lahir di dekat air karena air mempunyai nilai ekonomi & spiritual.Peradaban Nil misalnya menurut Herodotus adalah suatu hadiah dari Sungai Nil, jadi kondisi alam mempunyai hubungan yang erat dengan lahirnya sebuah peradaban. Demikian juga peradaban Mesopotamia yang terletak di antara 2 aliran Sungai Eufrat & Tigris melahirkan peradaban yang berkaitan dengan kesubutan tanah, mulai dari mengolah lahan pertanian, astronomi untuk penentuan waktu yang berkaitan dengan aktivitas pertanian sampai penemuan roda oleh bangsa Sumeria yang pada awalnya berfungsi untuk mengangkut hasil pertanian. (https://bandarlampungkota.go.id/blog/tabel-sistem-periodik-unsur-kimia-dan-gambar-hd/)
Sebaliknya peradaban Syria yang salah satunya didukung oleh bangsa Yahudi alamnya monoton & keras karena terdiri atas stepa & gurun sehingga manusianya harus bekerja keras untuk bisa bertahan hidup. Alam yang serba kering dengan hujan yang sedikit mendorong inspirasi bangsa Yahudi dari abad ke abad. Kondisi alam yang keras telah membentuk bangsa Yahudi berwatak setia, ulet, kreatif, berani & cinta tanah air adalah karena didorong oleh rasa menjadi umat pilihan. Hal ini juga yang mendorong kemajuan di bidang ilmu pengetahuan & kesenian bangsa Yahudi di sepanjang sejarahnya dimanapun berada meskipun situasi kehidupannya penuh dengan ancaman & penderitaan.

Timur Tengah selain melahirkan

berbagai peradaban kuno, juga tempat lahirnya peradaban Islam. Fenomena yang menarik bahwa lahirnya Islam tidak terlepas dair kehidupan & tradisi masyarakat Arab sebelum lahirnya Islam. Masyarakat Arab pra-Islam adalah masyarakat pagan meskipun kehidupan mereka relatif modern. Ada beberapa penganut Yahudi di Yatsrib, khaybar & Fadek & sebagian lagi memeluk Kristen Suriah namun jumlahnya tidak begitu signifikan. Mayoritas penduduk Mekkah adalah orang-orang Pagan. Kehidupan masyarakat Arab pra-Islam sering dikenal sebagai periode Jahiliyah. Bagi sebagian kalangan, jahiliyah diartikan sebagai komunitas orang yang bodoh & tidak berpendidikan. Pemaknaan yang lebih tepat dari istilah Jahiliyyah, yakni masyarakat yang tidak mempunyai otoritas hukum, nabi, & kitab suci. Tidak adanya norma, hukum, & nabi di tengah-tengah kalangan Quraish telah menyebabkan konflik di antara mereka. Maka pada saat itu dikenal istilah Ayyam al-Arab (hari-hari orang Arab) yang mengisahkan tentang permusuhan antarsuku yang disebabkan oleh  persengketaan dalam soal hewan ternak, padang rumput & mata air. Konteks sosial itu merupakan salah satu cara masyarakat Arab bertahan hidup, khususnya bagi orang-orang Baidah. Pada saat hidup dalam kelaparan, maka cara terbaik untuk mempertahankan hidup adalah berperang.
Satu hal yang perlu mendapatkan perhatian perihal periode Jahiliyyah ini bahwa meskipun mereka berperang antara satu suku dengan suku yang lain, namun mereka telah mempunyai kebudayaan yang tinggi, terutama dalam hal puisi. Jahiliyyah buka dalam maknanya yang literal, melainkan mengacu pada kenyataan masyarakat Arab pra-Islam yang pada umumnya mempunyai keyakinan yang lebih dekat pada polytheisme dari pada monotheisme. Istilah jahiliyyah digunakan oleh Al-Qur’an dalam rangka memberikan garis pemisah antara kebudayaan sebelum & setelah Islam, yang artinya bahwa setelah Islam datang maka Arab tidak kembali pada masa lalunya yakni telah berubah menjadi tempat di mana tidak ada ruang bagi polytheisme atau kemusyrikan.

Tradisi yang berkembang pada zaman Jahiliyyah

tidak sepenuhnya negatif, bahkan ada sebagian yang tetap digunakan sesudah datangnya Islam. Tradisi Jahiliyyah merupakan semen yang memperkuat Mekkah sebagai sebuah pusat perhatian masyarakat Arab. Ajaran tentang ramah tamah (hospitality) telah memberikan inspirasi kepada para tamu yang datang bahwa kekudusan Mekkah juga disempurnakan dengan keramahan penduduknya, khususnya kabilah Quraish. Pemandangan seperti itu masih membekas bahkan menjadi salah satu keistimewaan warga Arab khususnya yang tinggal di sekitar Mekkah karena mereka sadar bahwa sebagai tempat yang menyimpan sejarah bagi peradaban manusia, Mekkah harus memberikan contoh terbaik untuk membangun solidaritas sosial. Hidup di tengah kemajemukan adalah adanya kehangatan persahabatan & saling menghormati di antara kelompok. Warga Arab di Mekkah telah menjadi warisan sejarah yang sangat berarti dalam rangka membina hubungan antar kelompok yang dibangun di atas prinsip toleransi.
Timur Tengah juga menjadi tempat lahirnya semangat nasionalisme untuk lepas dari kolonialisme & imperialisme terutama bangsa-bangsa Barat. Nasionalisme bangsa-bangsa di kawasan Timur Tengah seperti pergerakan nasionalisme di Arab Saudi, Syria, & Libanon, Transyordania, Irak, Mesir, & Turki. Nasionalisme itu telah lahir akibat kesadaran tentang arti pentingnya kemerdekaan & penderitaan yang dialami sebagai bangsa yang terjajah. Kesadaran & semangat nasionalisme itu telah mendorong berbagai pemberontakan & perlawanan terhadap kekuasaan asing. Satu hal yang menarik dari pergerakan nasional di Timur Tengah, meski terdapat perjuangan dalam menentang penjajahan, namun semuanya tidak terlepas dari strategi & siasat bangsa-bangsa Barat untuk mempertahankan penjajahannya. Berbagai konspirasi perjanjian yang licik & pengkhianatannya yang dilakukan bangsa-bangsa Barat, terutama Inggris telah mewarnai perjalanan pergerakan nasionalisme di Timur Tengah. Berbagai perjanjian yang dibuat tidak dengan sepenuh hati untuk melepaskan bangsa-bangsa Timur Tengah dari penjajahan, namun sebaliknya hanya untuk mempertahankan, kepentingan bangsa-bangsa Barat di Timur Tengah sehingga meskipun memperoleh kemerdekaan namun banyak permasalahan yang harus dihadapi oleh bangsa-bangsa Timur Tengah di kemudian hari. Salah satunya adalah permasalahan Palestina-Israel yang berlarut-larut.
Kawasan Timur Tengah juga tidak pernah berhenti sebagai ajang konflik. Salah satunya adalah Pergolakan Libanon pada 1975-1990. Kesimpulan yang bisa ditarik dari pergolakan di Libanon antara lain; pertama, negara Libanon pada dasarnya dibangun di atas pondasi yang rapuh. Komitmen sebagai bangsa yang bersatu tidak pernah tercipta. Masyarakatnya yang terdiri dari berbagai macam etnis & sekte-sekte keagamaan masing tetap mempertahankan identitasnya masing-masing sehingga mudah memicu timbulnya konflik. Kedua, dasar konvensional untuk kehidupan dewasa ini sudah tidak relevan & mengandung bahaya. Pada Nasional tahun 1943 yang menjadi landasan sistem politik Libanon berdasarkan fragmentasi keagamaan merupakan bom waktu yang kemudian meledak menjadi Perang Saudara 1958 & 1975. Ketiga, konflik yang pada awalnya hanya melibatkan pihak-pihak yang pro & anti perubahan yang terfokus pada golongan Muslim & Kristen, dalam perkembangannya menjadi meluas & melibatkan berbagai kelompok dengan kepentingannya masing-masing. Konflik yang sifatnya bipolar kemudian menjadi multipolar. Kondisi itu semakin dipertajam dengan banyaknya campur tangan asing sehingga konflik atau pergolakan di Libanon semakin berlarut-larut.
Selain pergolakan di Libanon, kawasan Timur Tengah juga membara akibat Perang Teluk I antara Irak & Iran. Perang itu berlangsung selama hampir 8 tahun. Setidaknya ada tiga hal yang penting yang bisa ditarik dari Perang antara Irak & Iran yang terjadi pada tahun 1980-1988. Pertama, tidak ada pihak yang menjadi pemenang secara mutlak dalam perang Irak & Iran. Baik pihak Irak maupun Iran sama-sama menderita kerugian yang besar. Dapat dikatakan bahwa dalam Perang Teluk I, Irak mendapat separuh kemenangan, sedangkan Iran menderita setengah kekalahan. Kedua, prediksi Irak dalam Perang Teluk I sangat meleset. Perang yang diperkirakan hanya berlangsung singkat, ternyata berlarut-larut sampai 8 tahun. Iran yang semula diremehkan & dalam waktu singkat dapat segera ditaklukkan, ternyata melakukan perlawanan yang cukup sengit, sehingga Iran yang awalnya berada di pihak defensif kemudian menjadi ofensif. Ketiga, akibat Perang Teluk I ternyata membawa dampak yang luar biasa, terutama bagi Irak, terutama hutang luar negeri untuk biaya & ganti rugi perang. Dampak Perang Teluk I bagi Irak itu, kemudian memicu & menjadi salah satu faktor terjadinya Perang Teluk II antara Irak dengan Kuwait.