SuryaMasRental.Co.ID

Situs Teknologi Otomotif dan Mekanik Terupdate Paling Lengkap Di Dunia

Sifat Manusia, Pengembangan  dan Pengetahuannya

Sifat Manusia, Pengembangan  dan Pengetahuannya

Sifat Manusia, Pengembangan  dan PengetahuannyaSifat Manusia, Pengembangan  dan Pengetahuannya

Tinjauan filsafat yang lebih menonjol terhadap perbuatan manusia, menurut Al-Ghazali adalah yang menyangkut kebebasan perbuatan manusia dilihat dari segi efektivitasnya. Pandangan terhadap hal ini mempunyai akar pada konsepsi tentang hakikat manusia dan daya-daya yang dimilikinya. Perbuatan-perbuatan itu merupakan hasil determinasi kekuatan-kekuatan lain diluar dirinya. Manusia dalam hal ini adalah tempat berlakunya kekuatan-kekuatan itu.[44]

Di dalam Islam, menurut Al-Ghazali segala sesuatu yang ada di dalam diri manusia dari seleranya yang terendah sampai kelengkapan yang tertinggi, masing-masing mempunyai tempat dan tujuan di dalam mencapai tujuan akhirnya. Dengan mengecualikan “roh”, setiap sifat yang dimiliki manusia mempunyai dua bisikan hati, yakni : Pertama, untuk mendapatkan sesuatu yang dapat memuaskan dirinya sendiri atau dalam mengejar tercapainya kebahagiaan yang sesungguhnya, tanpa menghiraukan akibatnya terhadap perkembangan pribadinya secara utuh. Kedua, dalam rangka memainkan perannya di dalam suatu keselarasan, yang diperlukan antara segala sesuatu yang menjadi dasar kepribadian manusia.[45] Disini terlihat jelas aspek yang pertama itulah yang dapat membuat diri manusia sulit untuk mencapai tujuan hidupnya secara baik.

Al-Ghazali seringkali memperingatkan kita bahwa pengembangan keutuhan diri membutuhkan banyak pengalaman dan pengetahuan yang luas tentang sifat-sifat manusia. Oleh karena itu, sangatlah utama bagi seseorang yang menginginkan kebebasan demikian supaya meneliti rahasia kepribadian manusia dan untuk memahami dasar-dasarnya ia harus tahu kualitas, karakteristik dan sifat yang terdapat pada kepribadian tersebut, agar mengetahui tempat di mana keagungan kepribadian itu berada dan juga mengetahui tempat kemungkinan adanya kerusakan dan kehancuran kepribadian.[46]

Menurut Muhammad Yasir Nasution, pengetahuan tentang sesuatu bukanlah sesuatu yang diketahui itu. Kegiatan mengetahui melibatkan tiga hal yaitu : subyek yang mengetahui, obyek yang diketahui dan pengetahuan (realitas subyektif). Dan lebih lanjut, menurut Al-Ghazali kegiatan mengetahui adalah proses abstraksi. Suatu obyek dalam wujudnya tidak terlepas dari aksidens-aksidens dan atribut-atribut tambahan yang menyelebungi hakikatnya. Ketika subyek berhubungan dengan obyek yang ingin diketahui, hubungan itu melibatkan ukuran (qadar), cara (kayf), tempat dan situasi.[47]

Dengan demikian menurut hemat penulis maka proses abstraksi ini memperlihatkan indera sebagai pintu masuk pengetahuan dan akal sebagai tempat pengetahuan tertinggi.

 Kesimpulan

Pendekatan perkembangan kepercayaan menurut Fowler melalui beberapa tahap pendekatan diantaranya adalah:

  1. Tahap 1: kepercayaan elementer awal (Primal Faith) 0-2 tahun.
  2. Tahap 2: Kepercayaan intuitif- Proyektif
  3. Tahap 3: Kepercayaan Mistis Harafiah (6-11 tahun)
  4. Tahap ke 4: Kepercayaan Sintesis-Konvensional (masa adoselen umur 12- masa dewasa)
  5. Tahap 5: Kepercayaan individuatif-Reflektif (masa dewasa awal dan sesudahnya, umur 18 tahun dan seetrusnya)

Recent Posts