SuryaMasRental.Co.ID

Situs Teknologi Otomotif dan Mekanik Terupdate Paling Lengkap Di Dunia

Tujuan Asesmen

Tujuan Asesmen
Tujuan Asesmen

Tujuan Asesmen

Tujuan Asesmen

Asesmen memiliki dua tujuan, yaitu tujuan isi dan tujuan proses (Herman, Aschbacher, and Winters, 1992). Asesmen yang berkaitan dengan tujuan isi digunakan untuk menentukan seberapa jauh peserta didik telah mempelajari pengetahuan dan keterampilan spesifik. Dalam hal ini asesmen harus terfokus pada hasil belajar peserta didik. Asesmen yang berkaitan dengan proses digunakan untuk mendiagnosis kekuatan dan kelemahan peserta didik serta merencanakan pembelajaran yang sesuai dengan kondisi peserta didik.

Tujuan asesmen pembelajaran pada dasarnya tergantung pada penggunaan jenis-jenis asesmen. Ada empat jenis asesmen dalam pembelajaran, yaitu: (a) asesmen formatif dan sumatif; (b) asesmen objektif dan subjektif; (c) asesmen acuan normatif dan acuan patokan, dan (d) asesmen formal dan informal.

  1. Asesmen formatif dan sumatif

Asesmen sumatif biasanya dilaksanakan di akhir pembelajaran, dan digunakan untuk membuat keputusan tentang kenaikan kelas peserta didik. Asesmen formatif umumnya dilaksanakan selam proses pembelajaran berlangsung. Kegiatan asesmen formatif dapat berbentuk pemberian balikan atas pekerjaan peserta didik, dan tidak akan dijadikan sebagai dasar untuk kenaikan kelas peserta didik. Dalam konteks belajar, asesmen sumatif dan formatif disebut dengan asesmen belajar.

Salah satu bentuk asesmen formatif adalah asesmen diagnostic. Asesmen diagnostic mengukur pengetahuan dan keterampilan peserta didik untuk mengidentifikasi program belajar yang sesuai dengan kemampuan peserta didik. Asesmen mandiri oleh peserta didik merupakan bentuk asesmen diganostik yang melibatkan peserta didik mengakses dirinya sendiri.

  1. Asesmen objektif dan subjektif

Asesmen bentuk objektif merupakan bentuk pertanyaan yang memiliki satu jawaban yang benar.  Asesmen subjektif merupakan bentuk pertanyaan yang memiliki lebih dari satu jawaban yang benar (atau lebih dari satu cara mengungkapkan jawaban yang benar). Ada beberapa jenis pertanyaan berbentuk objektif dan subjektif. Jenis pertanyaan berbentuk objektif yaitu pertanyaan yang memiliki alternatif jawaban benar dan salah, pilihan ganda, pertanyaan menjodohkan, dan jawaban ganda. Pertanyaan subjektif yaitu pertanyaan yang membutuhkan jawaban luas dan ada yang berbentuk uraian.

  1. Asesmen acuan patokan dan acuan normatif

Asesmen acuan patokan, biasanya menggunakan tes acuan patokan, merupakan asesmen yang digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik berdasarkan criteria yang telah ditetapkan sebelumnya. Asesmen acuan patokan membandingkan kemampuan peserta didik dengan criteria, atau asesmen yang memfokuskan diri pada kinerja individu yang diukur berdasarkan pada criteria atau standar absolute. Asesmen acuan patokan seringkali digunakan untuk mengukur kompetensi peserta didik.

Prosedur asesmen acuan patokan mencakup urutan kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

  • Identifikasi hasil belajar yang diharapkan.
  • Rumuskan kriteria. Jika memungkinkan, libatkan peserta didik dalam merumuskan kriteria
  • Rencanakan kegiatan belajar yang membantu peserta didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan.
  • Sebelum kegiatan belajar berlangsung, komunikasikan kriteria tersebut dan pekerjaan yang akan diakses.
  • Berikan contoh kinerja yang diinginkan.
  • Implementasikan kegiatan belajar.
  • Gunakan beberapa metode asesmen berdasarkan tugas yang diberikan.
  • Kaji kembali data asesmen dan evaluasi masing-masing tingkat kinerja peserta didik atau kualitas pekerjaan dengan menggunakan kriteria
  • Apabila diperlukan, berikan tanda huruf (misalnya A, B, C, D) yang menunjukkan pemenuhan hasil belajar peserta didik dan orangtua
  • Laporkan hasil asesmen kepada peserta didik dan orangtua

Asesmen acuan normatif, atau dikenal dengan penentuan rangking berdasarkan kurva norml, biasanya menggunakan tes acuan normatif, tidak digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya. Dengan kata lain yaitu asesmen yang distandarkan pada sekelompok individu yang kinerjanya dinilai dalam hubungannya dengan kinerja individu lainnya. Asesmen ini sangat efektif untuk membandingkan kemampuan peserta didik satu dengan peserta didik lainnya. Asesmen untuk ujian masuk sekolah biasanya emnggunakan asesmen acuan normative, karena asesmen ini dapat menunjukkan proporsi jumlah calon peserta didik yang lulus datau diterima di sekolah atau di universitas , dan bukan menunjukkan tingkat kemampuan calon peserta didik yang sesungguhnya.


Sumber: https://blogs.uajy.ac.id/teknopendidikan/seva-mobil-bekas/