SuryaMasRental.Co.ID

Situs Teknologi Otomotif dan Mekanik Terupdate Paling Lengkap Di Dunia

Waspadai 3 Penyakit ketika Berat Badan Anak Sulit Naik

Waspadai 3 Penyakit ketika Berat Badan Anak Sulit Naik
Waspadai 3 Penyakit ketika Berat Badan Anak Sulit Naik

Waspadai 3 Penyakit ketika Berat Badan Anak Sulit Naik

Beberapa penyakit menampakkan fenomena turunnya berat badan si penderita. Pada permasalahan yang menimpa anak-anak, berat badan bisa turun secara tiba-tiba tanpa dalil yang jelas. Bila Bunda mengejar penurunan tiba-tiba pada anak, 3 penyakit ini butuh diwaspadai.

Penyakit celiac

Penyakit celiac adalahsuatu gangguan pada sistem pencernaan, khususnya pada usus halus. Gangguan ini diakibatkan oleh sebuah reaksi autoimun yang mengakibatkan kehancuran pada usus halus. Gluten, sebuah protein yang ada di biji-bijian gandum, merangsang respons imun yang tidak normal sampai-sampai zat imun tubuh bakal menyerang usus halus.

Respons imun yang tidak normal ini diperkirakan disebabkan oleh hal genetika. Oleh karena itu, penyakit celiac bisa diturunkan ke keturunan berikutnya. Sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal World Journal Gastroenterol pada tahun 2012 melafalkan bahwa penyakit celiac lazimnya ditemukan pada anak dengan fenomena diare kronis, distensi abdomen, dan tidak berhasil tumbuh.

Kerusakan usus dampak reaksi autoimun mengakibatkan gangguan pada penyerapan nutrisi. Akibatnya anak akan kelemahan nutrisi dan sulit meningkatkan berat badan. Bila urusan ini tidak dipedulikan berlarut maka perkembangan anak bakal terganggu dan dapat merangsang timbulnya penyakit autoimun lainnya.

Untuk dapat mendirikan diagnosis adanya penyakit celiac, tidak melulu berat badan anak yang diperiksa. Terdapat serangkaian tes yang perlu dilaksanakan oleh dokter.

Penyakit tuberkulosis

Penurunan berat badan pada anak-anak tanpa karena yang jelas bisa menjadi fenomena infeksi tuberkulosis. Kontak dengan penderita tuberkulosis atau menderita batuk lebih 3 minggu menjadi penguat ketidakpercayaan adanya infeksi tuberkulosis.

Sebelum mendirikan diagnosisnya, dokter akan mengerjakan serangkaian tes. Pemeriksaan tuberkulin (Tes Mantoux) dan potret toraks dibutuhkan untuk urusan tersebut.

Penyakit cacingan

Penyakit dampak infeksi cacing masih menjadi endemis di negara berkembang, tergolong Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan pada tahun 2013, angka prevalensi penyakit cacingan di Indonesia masih berkisar 28%. Diperkirakan masing-masing orang yang terinfeksi membawa 6 cacing di tubuhnya.

Infeksi cacing pada anak erat kaitannya dengan masalah malnutrisi. Hal ini disebabkan asupan nutrisi dari makanan tidak bisa diserap oleh tubuh. Akibatnya, berat badan anak akan susah bertambah.

Gejala yang menyertai penyakit cacingan cukup pelbagai walaupun infeksi dari sejumlah jenis cacing lumayan spesifik. Keluhan anus yang gatal pada malam hari merupakan misal gejala infeksi cacing kremi. Di samping itu, adanya cacing di tinja anak menjadi bukti powerful adanya infeksi cacing.

Infeksi cacing dapat memunculkan komplikasi yang lebih parah dibanding sebatas berat badan yang turun. Anemia sangat barangkali terjadi pada anak yang terinfeksi cacing tambang. Diare sampai tinja berdarah pun dapat terjadi pada anak yang terinfeksi caing gelang.

Menegakkan diagnosis untuk sebuah penyakit merupakan kemahiran dari seorang dokter. Oleh sebab itu, anak yang sulit meningkatkan berat badan butuh Bunda pantau supaya dapat dikonsultasikan untuk dokternya.

Sumber : pro.co.id